“Kartini”-kah kamu?
04.27.10 - 05:31am
Bagi yang, atas kehendakNYA, terlahir sebagai laki-laki sepenuh raga dan jiwa, akan sulit untuk memahami mengapa ada gerakan emansipasi wanita. Terlebih jika informasi yang tersiar resmi, hampir tidak ada yang mengabarkan perbedaan perlakuan (apapun itu artinya) antara laki-laki dan perempuan. Rasanya tidak ada aturan resmi maupun non formal yang membedakan hak dan kewajiban antara keduanya.
Jika ditelisik sebenarnya ada dan sangat mencolok: menyangkut hak yang positif. Pekerja perempuan berhak atas cuti haid, cuti bersalin, cuti melahirkan dan pengurangan jam kerja untuk menyusui. Hak yang mustahil didapat pekerja laki-laki. Sementara semua hak pekerja laki-laki dimiliki oleh perempuan. Itu untuk menyebut satu contoh saja, tentu masih bisa dicari contoh lain.
Jika demikian, masih adakah kesempatan untuk perempuan sekarang berbuat seperti RA Kartini? Karena hak dan kewajiban sudah relatif sama, logikanya tidak mungkin lagi bakal ada pejuang emansipasi wanita. Pekerjaan RA Kartini telah selesai. Tidak ada kesempatan untuk jadi ‘penerus’ RA kartini, jika semangatnya hanya selesai pada persamaan hak dan kewajiban laki-laki perempuan
Karena perempuan dan laki-laki sama “derajatnya” dengan konsekuensi sama hak dan kewajibannya di berbagai bidang (kecuali yang secara alami memang hanya menjadi hak gender tertentu, semisal dalam hamil dan menghamili tidak mungkin terjadi pertukaran peran), maka emansipasi yang masih bisa dilakukan adalah perbedaan hak dan kewajiban antar kelompok yang bukan kelompok gender.
Penyetaraan hak politik kadang melenceng dan diarahkan ke isu gender ini. Atas nama emansipasi perempuan, nekat mencalonkan diri jadi kepala daerah kemudian memposisikan diri sebagai kaum yang haknya dipreteli. Padahal yang dipersoalkan adalah moralitasnya. Bukan keperempuanannya. Bukan karena Anda perempuan, Neng, orang protes pencalonan Anda sebagai bos besar daerah.
Di masa kaum pemuja pasar sekarang ini hak dan kewajiban dinilai dari daya tukar: uang! Karenanya perjuangan emansipasi menjadi bergeser ke persamaan hak dasar: Emansipasi miskin untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dan pendidikan yang layak. Itu saja dulu yang terpenting. Kaum miskin belum perlu rumah seharga milyar, pemum perlu mobil yang pajaknya puluhan juta. Tapi sangat memerlukan layanan kesehatan dan pendidikan.
Nah, jika berminat meneruskan perjuangan Kartini, perjuangkanlah hak kaum mayoritas tapi miskin. Karena mereka terjepit-tergilas mekanisme pasar, berhala baru dari negeri seberang. Perjuangan ini bakal sangat berat. Anggapan pasar adalah mekanisme keadilan terbaik, terlanjur membatu.
Peluang untuk menjadi pahlawan emansipasi lebih terbuka, bisa laki-laki bisa perempuan, bisa bangsawan bisa jelata. Seperti kata blogdetik Kartini adalah inspiring woman. Kartini menginspirasi persamaan derajat berbagai kelompok, termasuk derajat kaum miskin dan fakir yang sejatinya sama denga kaum kaya raya dalam mendapatkan layanan kesehatan dan pendidikan.
Saatnya untuk merevitalisasi inspirasi dari kartini dengan meluaskannya menjadi penuntutan hak atas kebutuhan dasar manusiawi bagi semua individu. Jangan serahkan kepada mekanisme pasar untuk pemenuhan kebutuhan dasar.









Nice. . .Very very nice. .
Berkunjung http://surantoboy.blogdetik.com
Sepertinya aku bukan… ^_^
aku belum bisa jadi kartiniiiiiiiiiiiii…hikzzz..hikzzzz
Hak memang harus setara…. Tak perlu menyepelekan kaum hawa.
Don’t forget to visit http://aris12.blogdetik.com
ah… ga usah jadi Kartini… jadi diri sendiri aja… she’s not that perfect anyway…
buat saia, kartini itu bukan sekedar persamaan hak dan derajat wanita dengan laki2 tapi lebih peran penting wanita hidup di dunia
like this,, keep writing
mampir ya :
http://cwonarsiz.blogdetik.com/2010/04/22/maia-estianty-my-inspiring-woman/
inspirasi posting,
thx utk mengingatkan aku sebagai wanita